Baiq Widiantari, MH.
Wakil Sekretaris Penataan Aparatur Organisasi
PKC PMII Bali Nusra
Kondisi ini sangat terasa di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Sebagai daerah yang kini berada di garis depan pariwisata internasional dan pusat perhatian dunia (dengan hadirnya Sirkuit Mandalika hingga perkembangan industri kreatif lokal), Lombok mengalami pertemuan budaya skala besar secara masif. Di satu sisi, keterbukaan ini memicu pertumbuhan ekonomi; namun di sisi lain, ia menguji daya tahan identitas lokal Sasak serta harmonisasi antaretnis dan agama yang telah terbangun lama. Pertanyaan kritis yang muncul hari ini adalah: bagaimana budaya Nusantara, yang mengakar pada kearifan lokal Lombok dan NTB, dapat bertahan dan tetap relevan dalam menentukan masa depan kebangsaan Indonesia?
Dilema Identitas di Era Disrupsi Digital dan Komersialisasi Budaya
Tantangan nasionalisme saat ini hadir dalam wujud yang jauh lebih halus ketimbang ancaman fisik di masa lalu. Kita tidak lagi berhadapan dengan imperialisme teritorial, melainkan dengan homogenisasi budaya dan fragmentasi sosial. Invasi budaya populer luar—mulai dari tren gaya hidup, budaya populer pop-Western, hingga pola pikir eksternal lainnya—dengan cepat menggeser nilai-nilai lokal yang tadinya menjadi perekat masyarakat.
Di Lombok, generasi muda berada di persimpangan jalan antara mempertahankan tradisi leluhur atau terseret dalam gaya hidup global yang serba instan. Anak-anak muda hari ini sering kali lebih familiar dengan dialek, estetika, dan tren isu sosial dari luar negeri dibanding kearifan daerahnya sendiri seperti bahasa Sasak, seni tutur, atau sejarah lokal. Ketika identitas lokal memudar, rasa keterikatan terhadap komunitas nasional ikut melemah. Nasionalisme yang kehilangan akar budayanya akan runtuh menjadi sekadar formalitas birokrasi tanpa ruh kebangsaan.
Di sisi lain, algoritma media sosial cenderung menciptakan ruang gema (echo chamber) yang memperuncing polarisasi. Di wilayah dengan struktur masyarakat yang religius dan multietnis seperti di NTB (di mana etnis Sasak, Bali, Samawa, Mbojo, dan etnis pendatang hidup berdampingan), teknologi sering kali rentan mengeksploitasi isu suku, agama, dan antargolongan (SARA) demi kepentingan politik jangka pendek atau komodifikasi engagement di ruang digital. Dalam situasi ini, ikatan kebangsaan yang berbasis pada semboyan Bhinneka Tunggal Ika berada dalam posisi yang sangat rentan. Budaya Nusantara dan Kearifan Lokal Lombok sebagai Kompas Kebangsaan
Untuk menjawab tantangan tersebut, kita harus menengok kembali pada esensi keberadaan Indonesia. Indonesia dibangun bukan atas dasar kesamaan ras atau satu agama, melainkan atas dasar kehendak bersama (desir d'etre ensemble) yang ditopang oleh mozaik kebudayaan Nusantara, termasuk di dalamnya kebudayaan khas Lombok.
Budaya Nusantara bukanlah peninggalan masa lalu yang statis atau sekadar komoditas pariwisata untuk dipamerkan dalam event internasional. Di dalamnya terkandung falsafah hidup yang sangat relevan untuk menjawab krisis modernitas:
Gotong Royong dan Kolektivisme (Nilai Besemeton): Di Lombok, tradisi saling bantu (gotong royong) dan falsafah maliq maing serta semangat pembayun/besemeton (persaudaraan) menjadi benteng utama terhadap sifat individualisme ekstrem yang dipicu oleh gaya hidup modern.
Musyawarah dan Toleransi (Gundem & Harmonisasi Antar-Komunitas): Tradisi musyawarah atau gundem dalam adat Sasak serta rekam jejak toleransi panjang antara komunitas Muslim Sasak dan Hindu Bali di Lombok mengandalkan asas kekeluargaan untuk menyelesaikan konflik. Ini adalah pendekatan dialogis yang sangat dibutuhkan di tengah riuhnya polarisasi media sosial.
Kearifan Lokal Ekologis (Konsep Pranata Mangsa & Masyarakat Adat Bayan): Nilai-nilai adat masyarakat lokal (seperti di Bayan, Lombok Utara) dalam menjaga hutan tutupan, mata air Gunung Rinjani, dan tata ruang adat menyediakan solusi etis terhadap krisis iklim global dan ancaman alih fungsi lahan yang tak terkendali.
Menjadikan budaya Nusantara dan kearifan lokal Lombok sebagai benteng identitas bukan berarti kita harus menutup diri dari kedatangan wisatawan internasional atau terjebak dalam chauvinisme lokal. Sebaliknya, identitas kebudayaan yang kuat justru memberikan rasa percaya diri (national self-confidence) bagi masyarakat Lombok untuk berinteraksi dengan dunia internasional tanpa kehilangan jati diri.
Strategi Penguatan Nilai Kebangsaan untuk Masa Depan
Menguatkan kembali nilai kebangsaan membutuhkan pendekatan baru yang tidak lagi dogmatis atau paternalistik. Kebijakan top-down yang kaku tidak akan efektif menyentuh generasi digital. Diperlukan strategi komprehensif yang transformatif:
1. Redefinisi Narasi Kebangsaan Lewat Pop Culture dan Industri Kreatif Mandalika
Nilai-nilai kebangsaan dan budaya Nusantara harus diterjemahkan ke dalam bahasa zaman. Kebudayaan lokal NTB—seperti tenun ikat/songket Sasak, musik tradisional Gendang Beleq, hingga cerita rakyat—perlu masuk ke dalam industri kreatif modern: video game, film, animasi, musik modern, dan media digital. Ketika event kelas dunia seperti MotoGP atau World Superbike digelar di Lombok, yang ditampilkan bukan hanya infrastruktur balap, melainkan narasi kebudayaan yang dikemas anggun dan modern sebagai alat diplomasi budaya (soft power) Indonesia.
2. Pendidikan Kebudayaan Berbasis Pengalaman (Experiential Learning)
Kurikulum pendidikan di sekolah-sekolah di NTB harus menggeser fokus dari hafalan teori kewarganegaraan menuju pengalaman langsung. Para siswa perlu diajak berinteraksi langsung dengan desa-desa adat (seperti Sade, Ende, atau Bayan), mempelajari pengolahan lingkungan berbasis kearifan lokal, serta terlibat dalam ruang dialog lintas agama/etnis. Pendidikan karakter berbasis kearifan lokal ini akan menanamkan rasa empati dan kepemilikan terhadap bangsa secara alami.
3. Literasi Digital dan Etika Keberagaman di Ruang Siber
Sebagai praktisi di bidang cyber media, penguatan nilai kebangsaan di ruang digital memerlukan literasi media yang masif dan kedaulatan informasi. Generasi muda NTB harus dibekali kemampuan berpikir kritis dalam menyaring disinformasi, hoaks, ujaran kebencian, dan narasi sektarian yang berpotensi memecah belah persatuan. Ruang digital media lokal harus diisi dengan konten-konten yang merayakan kebhinekaan dan memperkuat narasi persatuan.
4. Institusionalisasi Ekonomi Berbasis Budaya dan Kesejahteraan Lokal
Budaya akan bertahan jika ia memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi masyarakatnya. Melalui pemberdayaan UMKM kerajinan tenun, kuliner khas lokal, pariwisata berbasis komunitas (community-based tourism), dan perlindungan hak kekayaan intelektual atas karya budaya lokal Sasak, budaya Nusantara dapat menjadi penggerak ekonomi daerah yang inklusif dan berkeadilan.
Menatap Masa Depan Kebangsaan dari Lombok
Masa depan Indonesia tidak ditentukan oleh seberapa besar kekayaan alam atau kemegahan infrastruktur yang kita miliki, melainkan oleh seberapa solid rasa kebangsaan dan identitas yang kita genggam. Nasionalisme masa depan adalah nasionalisme yang inklusif, adaptif, dan berakar kuat pada nilai-nilai Nusantara.
Dari Bumi Gora Lombok, kita menyuarakan bahwa pembangunan dan modernisasi tidak boleh merusak akar tradisi. Dengan menjadikan budaya lokal sebagai sumber inspirasi dan fondasi identitas, masyarakat NTB dan Indonesia pada umumnya tidak hanya akan mampu bertahan menghadapi tantangan globalisasi, tetapi juga sanggup berdiri tegak sebagai bangsa yang bermartabat di panggung dunia. Penguatan nilai kebangsaan adalah kerja berkelanjutan—sebuah jembatan yang menghubungkan warisan luhur masa lalu dengan cita-cita besar masa depan Indonesia.
