LAW SCHOOL: Jurnal atau karya akademik tidak sekadar ditulis dengan menuangkan ide dalam bentuk tulisan semata. Namun, formulasi yang jelas dan sistematis sangat dibutuhkan agar tulisan tersebut dapat dipahami oleh pembaca. Dalam penyusunan karya ilmiah yang efektif, berbagai strategi dapat diterapkan.
Pertama, ide tulisan akademik dapat diperoleh dari berbagai sumber, terutama dari hal-hal yang dekat dengan minat penulis. Ide yang dipilih diupayakan agar relevan dengan bidang yang diminati, lalu diformulasikan agar perhatian dapat ditarik dan sudut pandang yang unik dapat dimiliki.
Kedua, setelah
ide ditemukan, studi literatur adalah langkah selanjutnya yang harus dilakukan.
Melalui studi ini, penelitian yang sudah ada dilihat, serta kekurangan atau
keterbatasannya diidentifikasi. Aspek kebaruan yang bisa diangkat dalam tulisan
juga turut ditentukan. Pada tahap ini, pertanyaan mendasar sudah harus dapat
dijawab, seperti apa yang akan ditulis, mengapa topik tersebut dianggap
penting, dan bagaimana cara menuliskannya. Kemudian, struktur dalam karya
akademik diharuskan logis dan mudah dipahami.
Menghindari
Kesalahan Umum
Kesalahan
umum dalam tulisan akademik sering kali luput disadari oleh banyak penulis, di antaranya adalah pemilihan judul yang terlalu
teknis atau normatif sehingga perhatian tidak berhasil ditarik. Selain itu,
hilangnya konteks akademik pada tulisan dapat disebabkan oleh kurang
diperhatikannya keterhubungan dengan literatur. Selanjutnya, fokus yang kurang
dan keterbacaan yang buruk diakibatkan oleh terlalu banyak dimasukkannya ide
dalam satu tulisan, serta alur pemikiran menjadi sulit diikuti karena tujuan
tulisan tidak disampaikan dengan jelas.
Agar
tulisan dibuat dengan struktur yang jelas, dimulai dari pengenalan masalah, research
gap, penyusunan argumen utama, hingga ditariknya kesimpulan yang kuat.
Penentuan judul yang akan dijadikan mahkota dari jurnal juga tidak kalah
penting untuk diperhatikan.
Perumusan
Judul dan Abstrak
Perhatian pembaca ditarik pertama kali oleh elemen judul. Ide besar artikel harus mampu disampaikan secara cepat, ringkas, dan menarik oleh sebuah judul yang baik. Jika diperlukan, subjudul (subtitle) dapat ditambahkan agar gagasan utama dapat diperjelas. Pentingnya penghindaran kata-kata yang berulang atau tidak perlu dalam judul karya akademik. Judul diharuskan menarik (eye-catching), namun koridor akademik harus tetap dijaga, untuk tercapainya hal tersebut kegiatan banyak membaca dan banyak menulis dijadikan sebagai kuncinya.
Kemudian,
penulisan abstrak juga perlu diperhatikan. Sebagai ringkasan dari keseluruhan
artikel, isi tulisan harus dicerminkan dengan jelas oleh abstrak. Beberapa
unsur penting wajib dicakup oleh abstrak yang baik, seperti latar belakang dan
tujuan penelitian, argumen utama, kebaruan dan urgensi kajian, serta nilai
tambah dibandingkan kajian sebelumnya. Secara ideal, abstrak ditulis secara
ringkas, yakni antara 150-200 kata, dengan disertainya pernyataan yang tegas
dan informatif.
Saat
proses penulisan dilakukan, fokus pada argumen utama sangat penting untuk
dipertahankan, dan kerelevanan semua informasi yang disampaikan harus
dipastikan. Selain itu, demi dijaganya integritas akademik, referensi yang
digunakan diharuskan untuk dicantumkan secara benar.
Penyusunan
jurnal hukum membutuhkan alur pemikiran yang sistematis dan terstruktur, mulai
dari pencarian ide hingga proses akhir penyuntingan naskah. Berikut adalah
langkah-langkah komprehensif dalam menyusun sebuah artikel jurnal hukum:
1.
Tahap Persiapan dan Eksplorasi
- Penemuan
Ide dan Isu Hukum:
Langkah pertama adalah mengidentifikasi isu hukum (legal issue)
atau kekosongan norma yang menarik. Topik yang kuat biasanya lahir dari
benturan antar-aturan. Sebagai contoh, Anda dapat mengangkat analisis
mengenai sinkronisasi hukum terhadap tindak pidana perdagangan orang
melalui media sosial, dengan membedah irisan kompleks antara UU PTPPO, UU
ITE, dan KUHP Baru.
- Studi
Literatur Awal:
Lakukan penelusuran terhadap artikel jurnal terdahulu, buku, doktrin, dan
putusan pengadilan yang relevan dengan topik tersebut. Tujuannya adalah
untuk memetakan sejauh mana topik ini sudah dibahas oleh para sarjana
hukum lainnya.
- Penentuan
Kebaruan (Novelty):
Temukan celah atau research gap dari literatur yang sudah ada.
Kebaruan ini bisa berupa penggunaan undang-undang yang baru disahkan,
sinkronisasi aturan yang belum pernah dibahas sebelumnya, atau pendekatan
teori yang berbeda.
2.
Tahap Perumusan dan Desain Penelitian
- Penyusunan
Rumusan Masalah:
Buat 1 hingga 2 pertanyaan penelitian yang tajam dan spesifik. Rumusan
masalah ini akan menjadi kompas utama dalam penulisan agar pembahasan
tidak melebar.
- Pemilihan
Metode Penelitian:
Tentukan pisau analisis yang akan digunakan. Untuk kajian sinkronisasi dan
harmonisasi aturan perundang-undangan, metode penelitian yuridis normatif
dengan pendekatan perundang-undangan (statute approach) dan
pendekatan konseptual (conceptual approach) merupakan kerangka yang
paling tepat.
3.
Tahap Pengumpulan dan Pengolahan Data
- Inventarisasi
Bahan Hukum:
Kumpulkan bahan hukum primer (seperti teks undang-undang dan putusan
hakim), bahan hukum sekunder (jurnal ilmiah, buku doktrin hukum, naskah
akademik), serta bahan hukum tersier (kamus hukum atau ensiklopedia).
- Sistematisasi
Bahan: Kelompokkan
pasal-pasal, teori, dan literatur tersebut secara kategoris berdasarkan
rumusan masalah yang telah dibuat agar alur analisis nantinya lebih
runtut.
4.
Tahap Penulisan Inti (Drafting)
- Penulisan
Pendahuluan:
Uraikan latar belakang masalah dengan menceritakan kondisi ideal (das
sollen) yang berbenturan dengan realitas hukum (das sein).
Tegaskan letak gap penelitian, sebutkan kebaruan tulisan, dan
akhiri bagian ini dengan rumusan masalah.
- Penyusunan
Hasil dan Pembahasan:
Uraikan argumen akademis secara terstruktur dengan membaginya ke dalam
sub-bab sesuai rumusan masalah. Lakukan analisis kritis terhadap bunyi
pasal, temukan tumpang tindih regulasinya, lakukan dialog dengan teori
hukum, dan tawarkan konstruksi hukum atau interpretasi yang ideal.
- Penarikan
Kesimpulan: Jawab
rumusan masalah secara lugas, padat, dan jelas berdasarkan temuan pada bab
pembahasan. Tidak perlu lagi mengutip teori atau pasal baru di bagian ini.
- Pemberian
Saran: Rumuskan
rekomendasi operasional dan spesifik berdasarkan kesimpulan.
5.
Tahap Finalisasi
- Perumusan
Judul dan Abstrak:
Lakukan perumusan ini pada tahap paling akhir agar benar-benar
mencerminkan isi tulisan yang sudah matang. Pastikan judul provokatif
secara akademis dan abstrak merangkum latar belakang, masalah, metode, dan
inti temuan secara padat dalam 150-250 kata.
- Penyusunan
Daftar Pustaka:
Susun referensi menggunakan Reference Manager (seperti Mendeley
atau Zotero) untuk memastikan akurasi dan kepatuhan pada gaya pengutipan (citation
style) jurnal yang dituju.
- Uji Plagiarisme dan Proofreading: Gunakan perangkat lunak pendeteksi kesamaan teks untuk menjaga similarity index tetap berada di bawah batas toleransi jurnal (biasanya di bawah 20%), serta periksa tata bahasa dan gaya selingkung sebelum naskah dikirim (submit).

Social Footer